Mendengar Suara Rakyat

Salah satu syarat seorang pemimpin adalah peka terhadap keluhan dan penderitaan rakyatnya. Kepekaan ini harus melekat dalam jiwa setiap pemimpin. Sebab menurut Bung Hatta, pemimpin adalah 'panitia kesejahteraan dan pelayan rakyat'.

Pemimpin yang bijak selalu berusaha untuk menjawab keluhan menjadi kenyataan. Sebab, kini keluhan tersebut telah berubah menjadi jeritan. Melalui media massa, kita bisa menyaksikan sisi-sisi kelam kehidupan rakyat. Masih banyak rakyat yang menjerit karena kemiskinan, pengangguran, kekumuhan, kebodohan, dan seterusnya. Menurut BPS, pada 2006 kemiskinan meningkat menjadi 39,05 juta jiwa atau 17,75% dibanding pada 2005 sebesar 35,10 juta jiwa atau 15,97%. Begitu pun jumlah pengangguran, dengan angka pada 2005 sebesar 10,3% lalu naik pada 2006 menjadi 10,8%. Dan, pada 2007 angka pengangguran terbuka berada di angka 12,6 juta jiwa.

Tentunya fenomena ini menjadi ironi bagi kemerdekaan Indonesia yang telah dicapai selama 63 tahun. Rakyat ternyata belum merdeka dari penderitaan dan masih terbelenggu dalam kubang kemiskinan. Kenyataan tersebut tentu bertolak belakang dari cita-cita dan tujuan kemerdekaan yang digagas oleh para founding father’s bangsa.

Perlu kita ingat, cita-cita dan tujuan utama dari kemerdekaan--sesuai pembukaan UUD 1945--adalah untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang adil dan makmur.

Menjelang Pemilu 2009, partai-partai politik maupun calon presiden tentu berlomba-lomba mengusung visi dan misi kesejahteraan rakyat. Janji-janji politik akan bertebaran di mana-mana, dengan tujuan untuk memperebutkan lumbung suara. Namun ingat, rakyat sekarang sudah apatis dengan janji-janji. Rakyat sudah tidak butuh janji-janji yang membosankan, melainkan perlu bukti nyata yang langsung dirasakannya.
Keluhan demi keluhan rakyat sudah semestinya didengar, diperhatikan, dan dijawab oleh siapa pun yang akan memimpin negeri tercinta. Jika rakyat mengeluh karena derita kemiskinan, jawabannya adalah melakukan program pemberdayaan. Jika rakyat mengeluh karena menganggur, jawabannya adalah menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Demikian pula jika rakyat mengeluh karena bodoh, jawabannya adalah memeratakan pendidikan.

Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rakyat berdoa agar kehidupan mereka semakin lebih baik. Rakyat sangat mendambakan harga-harga murah, BBM murah, pendidikan murah, gampang mencari pekerjaan, dan seterusnya. Oleh karenanya, ke depan Indonesia memerlukan pemimpin baru yang mau mendengar suara rakyatnya (amanah). Seorang pemimpin memiliki kematangan visi, leadership, dan jiwa pembaruan.
Sumber: Media Indonesia, 7 Agustus 2008.

0 komentar:

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com